Permasalahan
Pendidikan IPS di SD
Tujuan utama
Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental
positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil
mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya
sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala
program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan
tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).
1) Memiliki
kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui
pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan mastarakat.
2) Mengetahui
dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari
ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah
sosial.
3) Mampu
menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk
menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4) Menaruh
perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat
analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5) Mampu
mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive
yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
Menurut Noman
Sumantri bahwa tujuan Pendidikan IPS pada tingkat sekolah adalah:
1) Menekankan
tumbuhnya nilai kewarganegaraan, moral, ideologi negara dan agama.
2) Menekankan
pada isi dan metode berfikir ilmuwan.
3) Menekankan
reflective inquiry.
PIPS menurut
NCCS mempunyai tujuan informasi dan pengetahuan (knowledge and information),
nilai dan tingkah laku (attitude and values), dan tujuan keterampilan (skill):
sosial, bekerja dan belajar, kerja kelompok, dan keterampilan intelektual
(Jarolimele, 1986: 5-8).
Secara umum,
pencapaian tujuan Pendidikan IPS lulusan pendidikan SD belumlah optimal.
Kelemahan tersebut dilatarbelakangi oleh banyak hal, terutama proses pendidikan
dan pembelajarannya.
Dalam proses
pendidikan IPS di SD, pembelajarannya kurang memperhatikan karakteristik anak
usia sekolah dasar, yakni terkait dengan perkembangan psikologis siswa. Menurut
Jean Piaget (1963), anak dalam kelompok usia SD (6-12 tahun) berada dalam
perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan konkrit
operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan menganggap
tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan
adalah sekarang (=konkrit) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami
(=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat
abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity)
arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai,
peranan, permintaan atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam
program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.
Jika hal ini
dibiarkan terus, maka pembelajaran IPS dapat menjadi pelajaran yang membosankan
bagi siswa. Dan baik secara langsung maupun tidak akan berdampak pada tujuan
pendidikan IPS yang diharapkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
diperlukanlah model pembelajaran yang sesuai untuk materi IPS di SD dan
memperhatikan karakteristik anak usia SD.
Tujuan utama
Ilmu Pengetahuan Sosial ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat, memiliki sikap mental
positif terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi, dan terampil
mengatasi setiap masalah yang terjadi sehari-hari baik yang menimpa dirinya
sendiri maupun yang menimpa masyarakat. Tujuan tersebut dapat dicapai manakala
program-program pelajaran IPS di sekolah diorganisasikan secara baik. Dari rumusan
tujuan tersebut dapat dirinci sebagai berikut (Awan Mutakin, 1998).
1) Memiliki
kesadaran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkungannya, melalui
pemahaman terhadap nilai-nilai sejarah dan kebudayaan mastarakat.
2) Mengetahui
dan memahami konsep dasar dan mampu menggunakan metode yang diadaptasi dari
ilmu-ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah
sosial.
3) Mampu
menggunakan model-model dan proses berpikir serta membuat keputusan untuk
menyelesaikan isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4) Menaruh
perhatian terhadap isu-isu dan masalah-masalah sosial, serta mampu membuat
analisis yang kritis, selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5) Mampu
mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri agar survive
yang kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
Menurut Noman
Sumantri bahwa tujuan Pendidikan IPS pada tingkat sekolah adalah:
1) Menekankan
tumbuhnya nilai kewarganegaraan, moral, ideologi negara dan agama.
2) Menekankan
pada isi dan metode berfikir ilmuwan.
3) Menekankan
reflective inquiry.
PIPS menurut
NCCS mempunyai tujuan informasi dan pengetahuan (knowledge and information),
nilai dan tingkah laku (attitude and values), dan tujuan keterampilan (skill):
sosial, bekerja dan belajar, kerja kelompok, dan keterampilan intelektual
(Jarolimele, 1986: 5-8).
Secara umum,
pencapaian tujuan Pendidikan IPS lulusan pendidikan SD belumlah optimal.
Kelemahan tersebut dilatarbelakangi oleh banyak hal, terutama proses pendidikan
dan pembelajarannya.
Dalam proses
pendidikan IPS di SD, pembelajarannya kurang memperhatikan karakteristik anak
usia sekolah dasar, yakni terkait dengan perkembangan psikologis siswa. Menurut
Jean Piaget (1963), anak dalam kelompok usia SD (6-12 tahun) berada dalam
perkembangan kemampuan intelektual/kognitifnya pada tingkatan konkrit
operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh dan menganggap
tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka pedulikan
adalah sekarang (=konkrit) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka pahami
(=abstrak). Padahal bahan materi IPS penuh dengan pesan-pesan yang bersifat
abstrak. Konsep-konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity)
arah mata angin, lingkungan, ritual, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai,
peranan, permintaan atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam
program studi IPS harus dibelajarkan kepada siswa SD.
Jika hal ini
dibiarkan terus, maka pembelajaran IPS dapat menjadi pelajaran yang membosankan
bagi siswa. Dan baik secara langsung maupun tidak akan berdampak pada tujuan
pendidikan IPS yang diharapkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut
diperlukanlah model pembelajaran yang sesuai untuk materi IPS di SD dan
memperhatikan karakteristik anak usia SD.
Nama
Dosen : Dirgantara Wicaksono
Mata
Kuliah : Pengembangan Pembelajaran Pkn
di SD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar