Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) pada jenjang pendidikan dasar memfokuskan kajiannya
kepada hubungan antar manusia dan proses membantu pengembangan kemampuan dalam
hubungan tersebut. Pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dikembangkan
melalui kajian ini ditunjukan untuk mencapai keserasian dan keselarasan dalam
kehidupan masyarakat.
Pendidikan IPS
sudah lama dikembangkan dan dilaksanakan dalam kurikulum-kurikulum di
Indonesia, khususnya pada jenjang pendidikan dasar. Pendidikan ini tidak dapat
disangkal telah membawa beberapa hasil, walaupun belum optimal. Secara umum
penguasaan pengetahuan sosial atau kewarganegaraan lulusan pendidikan dasar
relatif cukup, tetapi penguasaan nilai dalam arti penerapan nilai, keterampilan
sosial dan partisipasi sosial hasilnya belum menggembirakan. Kelemahan tersebut
sudah tertentu terkait atau dilatarbelakangi oleh banyak hal, terutama proses
pendidikan atau pembelajarannya, kurikulum, para pengelola dan pelaksananya
serta faktor-faktor yang berpengaruh lainnya.
Beberapa temuan
penelitian dan pengamatan ahli memperkuat kesimpulan tersebut. Dalam segi hasil
atau dampak pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial atau IPS terhadap kehidupan
bermasyarakat, masih belum begitu nampak. Perwujudan nilai-nilai sosial yang
dikembangkan di sekolah belum nampak dalam kehidupan sehari-hari, keterampilan
sosial para sosial para lulusan pendidikan dasar khususnya masih
memprihatinkan, partisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan semakin
menyusut.
Banyak penyebab
yang melatarbelakangi pendidikan IPS belum dapat memberikan hasil seperti yang
diharapkan. Faktor penyebabnya dapat berpangkal dari kurikulum, rancangan,
pelaksana, pelaksanaan ataupun faktor-faktor pendukung pembelajaran. Berkenaan
dengan kurikulum dan rancangan pembelajaran IPS, beberapa penelitian memberi
gambaran tentang kondisi tersebut. Hasil penelitian Balitbang, Depdikbud tahun
1999 menyebutkan bahwa “Kurikulum 1994 tidak disusun berdasarkan basic
competencies melainkan pada materi, sehingga dalam kurikulumnya banyak
memuat konsep-konsep teoritis” (Boediono, et al. 1999: 84). Hasil evaluasi
kurikulum IPS SD tahun 1994 menggambarkan adanya kesenjangan kesiapan siswa
dengan bobot materi sehingga materi yang disajikan, terlalu dianggap sulit bagi
siswa, kesenjangan antara tuntutan materi dengan fasilitas pembelajaran dan
buku sumber, kesulitan menejemen waktu serta keterbatasan kemampuan melakukan
pembaharuan metode mengajar (Depdikbud, 1999).
Dalam
implementasi materi Muchtar, SA. (1991) menemukan IPS lebih menekankan aspek
pengetahuan, berpusat pada guru, mengarahkan bahan berupa informasi yang tidak
mengembangkan berpikir nilai serta hanya membentuk budaya menghafal dan bukan
berpikir kritis. Dalam pelaksanaan Soemantri, N. (1998) menilai pembelajaran
IPS sangat menjemukan karena penyajiannya bersifat monoton dan ekspositoris
sehingga siswa kurang antusias dan mengakibatkan pelajaran kurang menarik
padahal menurut Sumaatmadja, N. (1996: 35) guru IPS wajib berusaha secara
optimum merebut minat siswa karena minat merupakan modal utama untuk
keberhasilan pembelajaran IPS.
Selanjutnya
Como dan Snow (dalam Syafruddin, 2001: 3) menilai bahwa model pembelajaran IPS
yang diimplementasikan saat ini masih bersifat konvensional sehingga siswa
sulit memperoleh pelayanan secara optimal. Dengan pembelajaran seperti itu maka
perbedaan individual siswa di kelas tidak dapat terakomodasi sehingga sulit
tercapai tujuan-tujuan spesifik pembelajaran terutama bagi siswa berkemampuan
rendah. Model pembelajaran saat ini juga lebih menekankan pada aspek kebutuhan
formal dibanding kebutuhan real siswa sehingga proses pembelajaran terkesan
sebagai pekerjaan administratif dan belum mengembangkan potensi anak secara
optimal.
Berdasarkan
hal-hal di atas nampak, bahwa pada satu sisi betapa pentingnya peranan pendidikan
IPS dalam mengembangkan pengetahuan, nilai. Sikap, dan keterampilan sosial agar
siswa menjadi warga masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang baik namun di
pihak lain masih banyak masalah-masalah tersebut diperlukan penelitian
berkaitan dengan pembelajaran IPS. Salah satu upaya yang memadai untuk itu
adalah dengan melakukan model pembelajaran.
Nama
Dosen : Dirgantara Wicaksono
Mata
Kuliah : Pengembangan Pembelajaran Pkn
di SD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar