Selasa, 26 Mei 2015

Harapan “Sebuah” Ujian Nasional



Assalamualaikum Wr.Wb
Harapan “Sebuah” Ujian Nasional
Siapapun yang mendengar, kata Ujian Nasional, mungkin seketika wajah kita berubah menjadi mungkin wajah mengerut, alis mata berubah posisi, dan lubang hidung kita akan melebar. Bahasa tubuh, yang diiringi dengan perasaan cemas dan rasa takut ini, tidak bisa berbohong atau dibohongi, untuk menunjukkan sikap kita terhadap Ujian Nasional, jangan-jangan kita tidak bisa menyambutnya dengan baik. Hehehehehe……..
Menyikapi Ujian Nasional ini, dilakukan jauh-jauh hari, oleh hampir semua siswa, orang tua siswa, guru, pengelola pendidikan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, terhadap ujian tersebut.
Kenapa demikian hal ini dilakukan, sebagai bukti bahwa Ujian Nasional adalah benar-benar diistimewakan. Kehadirannya, akan membawa sukses atau bencana, tergantung masing-masing individu, yang mensikapinya.
Dalam konteks kepentingan, Ujian Nasional adalah kepentingan semua pihak, mulai dari siswa itu sendiri, orang tua, sekolah/madrasah, yayasan, pemerintah, sampai dengan penerbit buku, yang mengulas soal – soal Ujian Nasional. Sebagai siswa, persiapan yang dilakukan tentu menuntut agar seluruh mata pelajaran yang di UN kan tuntas diberikan oleh gurunya.
Sementara itu, kepentingan guru adalah bagaimana siswa memiliki daya serap tinggi terhadap mata pelajaran yang disampaikan. Sedangkan kepentingan sekolah, jelas menghendaki tingkat kelulusan UN mencapai 100%, dengan tingkat nilai kelulusan yang signifikan.
Sementara sekolah/madrasah/yayasan mengharapkan agar nanti saat penerimaan siswa baru sesuai target yang direncanakan. Lingkaran kepentingan ini, terus berputar. Siswa membutuhkan guru yang professional, guru membutuhkan sekolah/madrasah/ yayasan yang tentunya kondusif dan apresiatif. Kemudian, sekolah/madrasah/yayasan membutuhkan siswa sesuai target yang direncanakan. Tentunya keseluruhan lingkaran proses ini disebut proses belajar – mengajar tercapai sesuai yang diinginkan.
Jadi sebenarnya proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bukanlah hanya di kelas saja. Melainkan dalam atmosfir pendidikan, kegiatan yang ada hubungannya dengan upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dikategorikan sebagai proses kegiatan belajar mengajar. Ingat, bahwa orientasi pembelajaran selalu merujuk kepada prinsip learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to life together, secara sinergis.
Faktor ekternal yang mensupport percepatan proses KBM (kegiatan belajar mengajar) tersebut agar lebih baik, yaitu orang tua siswa dan Pemerintah (dalam hal ini Diknas Provensi/kota atau Kemenag Provensi/Kota setempat atau didaerah). Kepentingan orang tua siswa, sebagai pengguna jasa pendidikan, menghendaki anak – anaknya mampu menyelesaikan pendidikan formalnya dengan baik dan lancar serta berhasil menguasai personal skill sebagai bekal hidupnya di masa depan.
Sementara, kepentingan Diknas dan Kemenag setempat, mengawasi dan memonitor kebijakan/program pemerintah, agar dapat berjalan sesuai juklak dan juknis yang dibuat.
Lingkaran kepentingan ini, kemudian menjadi bola salju, yang semakin tahun semakin membesar. Jika lingkaran kepentingan ini begitu besar, maka satu sama lain akan melahirkan kebutuhan yang besar pula. Kebutuhan inipun akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka, memupuk ketergantungan satu sama lain.
Secara internal, siswa pasti tergantung kepada guru. Guru pasti tergantung kepada lembaga/instusinya atau Yayasannya. Sekolah/Madrasah/yayasan tergantung kepada siswa. Sementara faktor eksternal, yang berpengaruh terhadap proses ketergantungan tersebut adalah orang tua siswa dan Diknas atau Kemenag. Keberadaan kedua elemen ini, untuk mensupport keberlangsungan proses yang terus berputar secara internal tersebut.
Dari proses ketergantungan yang kuat inilah, kemudian menimbulkan ekses-ekses, baik positip maupun negatif, diantara stakeholders, yang satu sama lain memiliki kepentingan masing-masing. Tulisan ini mudah-mudahan tidak memunculkan ekses-ekses yang negatif, selain agar positive thinking, juga agar tidak ada pihak-pihak yang tersinggung, karena praktek-praktek yang sudah berjalan, layaknya seperti agenda rutin tahunan.
Orang tua siswa yang menghendaki anak-anaknya sukses dalam UN, mengupayakan tambahan pendalaman materi mata pelajaran, melalui bimbingan belajar (bimbel), meskipun mungkin sekolah telah melakukan hal serupa habis-habisan bagi peserta didiknya. Sekolah melakukan penekanan habis-habisan untuk memacu produktivitas peserta didiknya (siswa), untuk bisa lulus 100 %, melalui tambahan mulai jam ke 0 dan jam ke 10 dan seterusnya. Diknas dan Kemenag atau bentuk kerja sama dengan Lembaga pendidikan lainnya mengupayakan terselenggaranya pra-UN, dan sekolah-sekolah melakukan Try out, untuk menguji coba kemampuan Ujian Nasional.
Dalam rangka melihat kondisi dan suasana seperti ini, kita semua dituntut untuk bersikap arif dan bijaksana. Apapun persoalannya, apapun masalah yang menimpa kita, sebenarnya sama proporsionalnya (sama takarannya), hanya saja, yang membedakannya adalah sikapnya terhadap masalah tersebut, Apakah masalah itu bisa selesai atau bahkan bertambah parah, tergantung pada orang tersebut dalam cara pola fikirnya.
Sikap seseorang terhadap masalah hidupnya, tergantung kepada kemampuannya dalam memahami siapa dirinya, mengetahui apa yang menjadi potensinya, dan memaknai apa yang menjadi tujuan hidupnya (apa yang penting dalam hidupnya). Kemampuan bersikap ini, secara khusus, tidak diajarkan di dalam kelas. Kemampuan bersikap (jujur) dalam diri kita, diajarkan oleh banyak pihak, antara lain : orang tua kita, guru kita, lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Keseluruhannya, sangat mempengaruhi perkembangan sikap dan prilaku dalam hidup kita sehari-hari.
Kita tidak bisa menyalahkan satu dua orang saja, karena sikap seseorang tidak sesuai dengan harapan orang yang berkepentingan kepada orang tersebut. Banyak pihak yang membentuk kita bersikap, seperti ini.
Akhirnya, apabila semua pihak terakomodir kepentingannya, dan stakehorldes merasa puas terhadap lingkaran proses yang berlangsung dalam kegiatan belajar-mengajar, maka dihadapkan pada Ujian Nasional, tidak perlu ada kerisauan sekecil apapun. Anggap saja ini semua, adalah orang tua, kerabat, saudara-saudara kita yang jauh-jauh datang, ingin melepas rindu kepada kita semua.
Wassalamualaikum Wr.Wb.

Nama Dosen   : Dirgantara Wicaksono
Mata Kuliah    : Pengembangan Pembelajaran Pkn di SD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar