Rabu, 03 Juni 2015

model pembelajaran connected



MAKALAH TEMATIK KELAS TINGGI
MODEL PEMBELAJARAN KETERHUBUNGAN (CONNECTED)
KELOMPOK 2:
1.         Soffi Tristi Rahayu   (2013820001)
2.         Laras Shinta D N      (2013820018)
3.         Ega Octavia               (2013820038)
4.         Nur Fitriah                (2013820053)
5.         Hilda Rizky M           (2013820064)
6.         Bela Dina S                (2013820083)
Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan Tugas Kelompok sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, kami berterima kasih kepada ibu Zulfitria selaku dosen yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan tentang Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected). Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang diharapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.

                                                                                              Tangerang Selatan, Maret 2015

Penyusun








DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………       i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………..        ii
BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………..       1
  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………..       1
  2. Perumusan Masalah…………………………………………………….       2
  3. Tujuan Penulisan………………………………………………………..       2
BAB II PEMBAHASAN………………………………………………………      3
  1. Pengertian Model Keterhubungan……………………………………..        3
  2. Kelebihan Model Keterhubungan……………………………………..         4
  3. Kelemahan Model Keterhubungan……………………………………         6
  4. Langkah-langkah sintaks pembelajaran terpadu model keterhubungan         7
  5. Contoh aplikasi model Connected dalam pembelajaran di SD……….         8
BAB III PENUTUP
  1. Kesimpulan……………………………………………………………         12
  2. Saran…………………………………………………………………..         12





BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik.
Jika dibandingkan dalam konsep konvensional, maka pembelajaran terpadu tampak lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam belajar, sehingga peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk pembuatan keputusan. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bakal ini diharapkan diperoleh melalui pengalaman belajar di sekolah. Oleh karena itu pengalaman belajar di sekolah sedapat mungkin memberikan bekal peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk berkarya. Kecakapan ini disebut kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas dibanding hanya sekedar keterampilan.
Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik, dan unit tematisnya, menurut Robin Fogarty (1991) terdapat sepuluh cara atau model dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model tersebut adalah: (1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10) networked.
Kesepuluh cara ini di klasifikasikan kedalam 3 jenis, yakni pengintegrasian kurikulum di dalam satu disiplin ilmu, pengintegrasian kurikum beberapa disiplin ilmu, dan pengintegrasian kurikulum di dalam dan beberapa disiplin ilmu.
Di dalam makalah ini dibahas mengenai pembelajaran terpadu model connected yang merupakan pembelajaran yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.


B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa yang dimaksud Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)?
2.      Apa saja Kelebihan Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)?
3.      Apa saja Kekurangan Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)?
4.      Bagaimana langkah-langkah sintaks Model Pembelajaran Keterhubungan?
5.      Bagaimana contoh aplikasi model pembelajaran Keterhubungan (Connected) di SD?

C.    TUJUAN PENULISAN
1.      Untuk mengetahui pengertian Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
2.      Untuk mengetahui kelebihan Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
3.      Untuk mengetahui kekurangan Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
4.      Untuk mengetahui langkah-langkah sintaks Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
5.      Untuk mengetahui contoh aplikasi Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected) di SD
















BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Model Keterhubungan (Connected)
Model Keterhubungan ini lahir dari adanya gagasan bahwa sebenarnya dalam setiap mata pelajaran berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik, konsep dengan konsep dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu mata pelajaran dapat memfokuskan sub-sub yang saling berkaitan.
Pembelajaran terpadu model keterhubungan (connected model) menurut Fogarty adalah : “model focuses on making explicit connections with each subject area, connecting one topic to the next, connecting one concept to another, connecting a skill to relatied skill, connecting one day’s work to the next, or even one semester’s ideas to the next”. Pengertian tersebut menunjukkankan bahwa fokus model connected adalah pada keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar topik, keterkaitan antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan tugas pada hari ini dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu bidang studi.
Model pembelajaran ini menyajikan hubungan yang eksplisit di dalam suatu mata pelajaran yaitu menghubungkan satu topik dengan topik yang lain, satu konsep ke konsep yang lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, satu tugas ke satu tugas yang berikutnya.
Pada pembelajaran model ini kunci utamanya adalah adanya satu usaha sadar untuk menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu.
Bila kita memandang konsep koneksi ini, rincian dari satu disiplin ilmu terfokus kepada bagian-bagian yang sebenarnya saling berhubungan. Sehingga akan terjadi serangkaian materi satu menjadi prasarat materi berikutnya atau satu materi mendukung materi berikutnya, atau materi satu menjadi prasarat atau berhubungan sehingga apa yang dipelajari menjadikan belajar yang bermakna. Sebagai catatan kaitan antar konsep, topik, atau tema terjadi hanya pada satu mata pelajaran.


Agar lebih memahami model ini, perhatikanlah gambar di bawah ini.
 
Model Connected adalah model pembelajaran terpadu yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan satu konsep dengan konsep yang lain, satu topik dengan topik yang lain, satu keterampilan dengan keteramilan yag lain, tugas yang dilakukan dalam satu hari dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkna ide-ide yang dipelajari pada satu semester berikutnya dalam satu bidang studi.
B.     Kelebihan Model Keterhubungan (Connected)
Kelebihan dari model pembelajaran ini adalah peserta didik memperoleh gambaran secara menyeluruh tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus.
Secara umum proses pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh tiga faktor masukan, yaitu raw input, instrumental input, dan environmental input. Demikian halnya dengan pembelajaran terpadu connected, maka sistem itu dapat digunakan. Raw input terdiri dari guru dan peserta didik, maksudnya kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan guru tentang pembelajaran terpadu model connected maupun pengalaman mengajar guru. Selanjutnya kemampuan, sikap, minat dan motivasi merupakan faktor peserta didik yang akan berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Instrumental input merupakan acuan dalam pengembangan pembelajaran terpadu model connected, berdasarkan pada undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri (Kurikulum, SKL, dan SKKD) maka guru mengembangkan model pembelajaran. Dalam enviromental input, lingkungan yang berpengaruh pada kegiatan pembelajaran adalah ketersediaan sarana prasarana dan dukungan dari masyarakat baik moral maupun material (Nurrudin Hidayat, 2009:18).Contoh:
·         Guru menghubungkan/menggabungkan konsep matematika tentang uang dengan konsep jual beli, untung rugi, simpan pinjam, dan bunga.
·          Guru menghubungkan konsep pecahan dengan desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio, dan sebagainya dari pemaduan pembelajaran.

Beberapa kelebihan dari model terhubung (connected) adalah sebagai berikut : 1.Bagi Guru
a.       Guru dapat melihat gambaran yg menyeluh dan kemampuan atau indikator yg digabungkan sehingga kegiatan siswa lebih terarah untuk mencapai kemampuan tersebut.
b.      Guru dapat menghubungkan ide-ide dlm satu disiplin ilmu.
2.Bagi Siswa
a.       Dampak positif dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah peserta didik memperoleh gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu aspek tertentu.
b.      Peserta didik dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga terjadilah proses internalisasi.
c.       Menghubungkan ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi peserta didik untuk mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide dalam memecahkan masalah.
d.      Adanya hubungan antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan memperoleh gambaran yang lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi gagasan secara bertahap.

Hadisubroto, dalam Trianto mengemukakan keunggulan model keterhubungan (connected). Keunggulan dari model ini adalah :
1.      Dengan adanya hubungan atau kaitan antara gagasan di dalam satu bidang studi, peserta didik-peserta didik mempunyai gambaran yang lebih komprehensif dari beberapa aspek tertentu mereka pelajari secara lebih mendalam
2.      Konsep-konsep kunci dikembangkan dengan waktu yang cukup sehingga lebih dapat dicerna oleh peserta didik.
3.      Kaitan-kaitan dengan sejumlah sasaran di dalam satu bidang studi memungkinkan peserta didik untuk dapat mengkonseptualisasi kembali dan megasimilasi gagasan secara bertahap
4.      Pembelajaran terpadu model keterhubungan tidak mengganggu kurikulum yang sedang berlaku.
C.      Kekurangan Model Keterhubungan (Connected)
           Di samping mempunyai kelebihan, model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai berikut :
1.      Bagi Guru
a.       Tidak mendorong guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,
b.      Memadukan ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar bidang studi menjadi terabaikan.
c.       Model ini belum memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang pengembangan/mata pelajaran lain.
2.       Bagi Siswa
a.       Bagi siswa yang mempunyai kemampuan yang rendah, maka akan sedikit
kesulitan dalam mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara terus menerus.
b.      Dalam mengolah suatu pengetahuan, tidak jarang siswa merasa kesulitan
untuk memadukan topik-topik, konsep-konsep, maupun ide-ide dalam satu mata pelajaran, walaupun guru sudah berusaha memadukannya sesuai dengan karakteristik disiplin ilmu.





D.     Langkah-Langkah (Sintaks) Pembelajaran Terpadu Model Keterhubungan (Connected)
Model ini digunakan sebagai permulaan kurikulum terpadu. Guru merasa percaya diri mencari keterhubungan dalam mata pelajaran mereka (jika guru bidang studi). Mereka menjadi mau mengadaptasikan hubungan ide-ide dalam mata pelajaran yang menyeberang. Pembuatan keterhubungan juga diselesaikan secara kolaborasi dalam pertemuan guru (departement meeting) dalam hal ini dalam kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) yang dapat terjadi lebih famillier. Guru dapat memulai model ini sebelum memasuki keterpaduan yang lebih kompleks.
Pada dasarnya langkah-langkah pembelajaran terpadu model keterhubungan mengikuti tahap-tahap pembelajaran yang sudah biasa, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Oleh karena itu, sintaks model pembelajaran ini bisa direduksi dari berbagai model pembelajaran. Dengan demikian, sintaks pembelajaran terpadu bersifat fleksibel dan luwes. Karena dalam pembelajaran terpadu, sintaksnya dapat diakomodasi dari berbagai model pembelajaran.
1.      Tahap Perencanaan :
a.       menentukan tujuan pembelajaran umum
b.      menentukan tujuan pembelajaran khusus
2.       Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :
a.       menyampaikan konsep pendukung yang harus dikuasai siswa (materi prasyarat)
b.      menyampaikan konsep-konsep yang hendak dikuasai oleh siswa
c.       menyampaikan keterampilan proses yang dapat dikembangkan
d.       menyampaikan alat dan bahan yang akan digunakan / dibutuhkan
e.       menyampaikan pertanyaan kunci
3.      Tahap Pelaksanaan, meliputi :
a.       pengelolaan kelas; dengan membagi kelas kedalam beberapa
kelompok
b.       kegiatan proses
c.       kegiatan pencatatan data
d.       diskusi secara klasikal
4.      Evaluasi, meliputi :
a.        evaluasi proses , berupa :
·         ketepatan hasil pengamatan
·          ketepatan dalam penyusunan alat dan bahan
·         ketepatan siswa saat menganalisis data
b.      evaluasi produk :
·         penguasaan siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus yang telah ditetapkan.
·         evaluasi psikomotor : kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur.
E.     Contoh Aplikasi Model Keterhubungan dalam Pembelajaran di SD
Implementasi pembelajaran terpadu model Connected dikembangkan dalam bahasa dan sastra Indonesia secara terpadu di Sekolah Dasar.Di dalam pembelajaran bahasa dan sastra secara terpadu, yaitu pembelajaran kemampuan berbahasa yang meliputi aspek mendengarkan, aspek berbicara, aspek membaca dan aspek menulis dipayungkan kepada pembelajaran apresiasi sastra. Berikut contoh pembelajaran dengan menggunakan model keterhubungan

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 13
Pelajaran 4
                                              Mata Pelajaran   : Bahasa Indonesia
                                              Kelas / Semester: IV / 2
                                              Waktu                 : 2 x 35 menit
                                              Tema                  : Pendidikan
 _______________________________________________________________

I.    STANDAR KOMPETENSI:
5.Mendengarkan pembacaan pantun.
5. Menirukan pembacaan pantun.
5.  Menulis pantun anak yang dibacakan guru.
5.  Membacakan kembali pantun yang telah ditulis.
II.   KOMPETENSI DASAR:
5.1 Mendengarkan pantun anak yang dibacakan guru.
5.2 Menirukan pembacaan pantun anak dengan lafal dan intonasi yang tepat.
5.3 Menulis pantun yang telah dibacakan guru.
5.4 Membacakan kembali pantun yang telah ditulis.
III.  INDIKATOR:
Mendengarkan pembacaan pantun.
Menirukan pantun yang dibacakan oleh guru.
Menulis kembali panatun yang dibacakan guru.
Menjawab pertanyaan.
Menjelaskan isi pantun yang dibacakan guru.
IV.  TUJUAN PEMBELAJARAN:
Siswa dapat mendengarkan pembacaan pantun yang disampaikan oleh guru.
Siswa dapat menirukan pembacaan pantun dengan lafal dan intonasi yang tepat.
·            Siswa dapat menulispantun anak yang dibacakan guru.
V.   MATERI:
       * Pantun anak.
VI.  METODE PEMBELAJARAN:
 Ceramah
Diskusi
 Pemberian tugas
Demontrasi





Nama Dosen   : Dirgantara Wicaksono
Mata Kuliah    : Pengembangan Pembelajaran Pkn di SD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar