MAKALAH TEMATIK KELAS TINGGI
MODEL PEMBELAJARAN KETERHUBUNGAN
(CONNECTED)
KELOMPOK 2:
1.
Soffi
Tristi Rahayu (2013820001)
2.
Laras
Shinta D N (2013820018)
3.
Ega
Octavia (2013820038)
4.
Nur
Fitriah (2013820053)
5.
Hilda
Rizky M (2013820064)
6.
Bela
Dina S (2013820083)
Pendidikan
Guru Sekolah Dasar
Fakultas
Ilmu Pendidikan
Universitas
Muhammadiyah Jakarta
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT Yang
Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami
dapat menyelesaikan Tugas Kelompok sebatas pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki, kami berterima kasih kepada ibu Zulfitria selaku dosen yang telah
memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam
rangka menambah wawasan serta pengetahuan tentang Model Pembelajaran
Keterhubungan (Connected). Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas
ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang diharapkan. Untuk
itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang
akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang
membangun.
Tangerang
Selatan, Maret 2015
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR………………………………………………………… i
DAFTAR
ISI………………………………………………………………….. ii
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………….. 1
- Latar Belakang Masalah……………………………………………….. 1
- Perumusan Masalah……………………………………………………. 2
- Tujuan Penulisan……………………………………………………….. 2
BAB II
PEMBAHASAN……………………………………………………… 3
- Pengertian Model Keterhubungan…………………………………….. 3
- Kelebihan Model Keterhubungan…………………………………….. 4
- Kelemahan Model Keterhubungan…………………………………… 6
- Langkah-langkah sintaks pembelajaran terpadu model keterhubungan 7
- Contoh aplikasi model Connected dalam pembelajaran di SD………. 8
BAB III PENUTUP
- Kesimpulan…………………………………………………………… 12
- Saran………………………………………………………………….. 12
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
Pembelajaran terpadu merupakan suatu pendekatan dalam
pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa aspek baik dalam intra
mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Dengan adanya pemaduan itu peserta
didik akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan secara utuh sehingga
pembelajaran menjadi bermakna bagi peserta didik.
Jika dibandingkan dalam konsep konvensional, maka
pembelajaran terpadu tampak lebih menekankan keterlibatan peserta didik dalam
belajar, sehingga peserta didik terlibat aktif dalam proses pembelajaran untuk
pembuatan keputusan. Setiap peserta didik memerlukan bekal pengetahuan dan
kecakapan agar dapat hidup di masyarakat dan bakal ini diharapkan diperoleh
melalui pengalaman belajar di sekolah. Oleh karena itu pengalaman belajar di sekolah
sedapat mungkin memberikan bekal peserta didik dalam mencapai kecakapan untuk
berkarya. Kecakapan ini disebut kecakapan hidup yang cakupannya lebih luas
dibanding hanya sekedar keterampilan.
Ditinjau dari cara memadukan konsep, keterampilan, topik,
dan unit tematisnya, menurut Robin Fogarty (1991) terdapat sepuluh cara atau
model dalam merencanakan pembelajaran terpadu. Kesepuluh cara atau model
tersebut adalah: (1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5)
shared, (6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10)
networked.
Kesepuluh cara ini di klasifikasikan kedalam 3 jenis,
yakni pengintegrasian kurikulum di dalam satu disiplin ilmu, pengintegrasian
kurikum beberapa disiplin ilmu, dan pengintegrasian kurikulum di dalam dan
beberapa disiplin ilmu.
Di dalam makalah ini dibahas mengenai pembelajaran
terpadu model connected yang merupakan pembelajaran yang menghubungkan
satu konsep dengan konsep lain, satu topik dengan topik lain, satu keterampilan
dengan keterampilan lain, tugas dilakukan pada satu hari dengan tugas yang
dilakukan pada hari berikutnya, bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu
semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu
bidang studi.
B.
RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud Model Pembelajaran
Keterhubungan (Connected)?
2. Apa saja Kelebihan Model
Pembelajaran Keterhubungan (Connected)?
3. Apa saja Kekurangan Model
Pembelajaran Keterhubungan (Connected)?
4. Bagaimana langkah-langkah sintaks
Model Pembelajaran Keterhubungan?
5. Bagaimana contoh aplikasi model
pembelajaran Keterhubungan (Connected) di SD?
C.
TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui pengertian Model
Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
2. Untuk mengetahui kelebihan Model
Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
3. Untuk mengetahui kekurangan Model
Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
4. Untuk mengetahui langkah-langkah
sintaks Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected)
5. Untuk mengetahui contoh aplikasi
Model Pembelajaran Keterhubungan (Connected) di SD
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Model
Keterhubungan (Connected)
Model
Keterhubungan ini lahir dari adanya gagasan bahwa sebenarnya dalam setiap mata
pelajaran berisi konten yang berkaitan antara topik dengan topik, konsep dengan
konsep dapat dikaitkan secara eksplisit. Satu mata pelajaran dapat memfokuskan
sub-sub yang saling berkaitan.
Pembelajaran
terpadu model keterhubungan (connected model) menurut Fogarty adalah : “model
focuses on making explicit connections with each subject area, connecting one
topic to the next, connecting one concept to another, connecting a skill to
relatied skill, connecting one day’s work to the next, or even one semester’s
ideas to the next”. Pengertian tersebut menunjukkankan bahwa fokus model
connected adalah pada keterkaitan dalam seluruh bidang, keterkaitan antar
topik, keterkaitan antar konsep, keterkaitan antar keterampilan, mengaitkan
tugas pada hari ini dengan selanjutnya bahkan ide-ide yang dipelajari pada satu
semester dengan ide-ide yang dipelajari pada semester berikutnya dalam satu
bidang studi.
Model pembelajaran ini
menyajikan hubungan yang eksplisit di dalam suatu mata pelajaran yaitu
menghubungkan satu topik dengan topik yang lain, satu konsep ke konsep yang
lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, satu tugas ke satu tugas
yang berikutnya.
Pada
pembelajaran model ini kunci utamanya adalah adanya satu usaha sadar untuk
menghubungkan bidang kajian dalam satu disiplin ilmu.
Bila kita memandang konsep koneksi ini, rincian dari satu disiplin ilmu terfokus kepada bagian-bagian yang sebenarnya saling berhubungan. Sehingga akan terjadi serangkaian materi satu menjadi prasarat materi berikutnya atau satu materi mendukung materi berikutnya, atau materi satu menjadi prasarat atau berhubungan sehingga apa yang dipelajari menjadikan belajar yang bermakna. Sebagai catatan kaitan antar konsep, topik, atau tema terjadi hanya pada satu mata pelajaran.
Bila kita memandang konsep koneksi ini, rincian dari satu disiplin ilmu terfokus kepada bagian-bagian yang sebenarnya saling berhubungan. Sehingga akan terjadi serangkaian materi satu menjadi prasarat materi berikutnya atau satu materi mendukung materi berikutnya, atau materi satu menjadi prasarat atau berhubungan sehingga apa yang dipelajari menjadikan belajar yang bermakna. Sebagai catatan kaitan antar konsep, topik, atau tema terjadi hanya pada satu mata pelajaran.
Agar lebih memahami model ini,
perhatikanlah gambar di bawah ini.
Model Connected adalah
model pembelajaran terpadu yang secara sengaja diusahakan untuk menghubungkan
satu konsep dengan konsep yang lain, satu topik dengan topik yang lain, satu
keterampilan dengan keteramilan yag lain, tugas yang dilakukan dalam satu hari
dengan tugas yang dilakukan pada hari berikutnya, bahkna ide-ide yang
dipelajari pada satu semester berikutnya dalam satu bidang studi.
B.
Kelebihan Model
Keterhubungan (Connected)
Kelebihan dari model
pembelajaran ini adalah peserta didik memperoleh gambaran secara menyeluruh
tentang suatu konsep sehingga transfer pengetahuan akan sangat mudah karena
konsep-konsep pokok dikembangkan terus-menerus.
Secara umum proses pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh tiga faktor masukan, yaitu raw input, instrumental input, dan environmental input. Demikian halnya dengan pembelajaran terpadu connected, maka sistem itu dapat digunakan. Raw input terdiri dari guru dan peserta didik, maksudnya kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan guru tentang pembelajaran terpadu model connected maupun pengalaman mengajar guru. Selanjutnya kemampuan, sikap, minat dan motivasi merupakan faktor peserta didik yang akan berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Instrumental input merupakan acuan dalam pengembangan pembelajaran terpadu model connected, berdasarkan pada undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri (Kurikulum, SKL, dan SKKD) maka guru mengembangkan model pembelajaran. Dalam enviromental input, lingkungan yang berpengaruh pada kegiatan pembelajaran adalah ketersediaan sarana prasarana dan dukungan dari masyarakat baik moral maupun material (Nurrudin Hidayat, 2009:18).Contoh:
Secara umum proses pembelajaran sebagai suatu sistem dipengaruhi oleh tiga faktor masukan, yaitu raw input, instrumental input, dan environmental input. Demikian halnya dengan pembelajaran terpadu connected, maka sistem itu dapat digunakan. Raw input terdiri dari guru dan peserta didik, maksudnya kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengetahuan guru tentang pembelajaran terpadu model connected maupun pengalaman mengajar guru. Selanjutnya kemampuan, sikap, minat dan motivasi merupakan faktor peserta didik yang akan berpengaruh pada kegiatan pembelajaran. Instrumental input merupakan acuan dalam pengembangan pembelajaran terpadu model connected, berdasarkan pada undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri (Kurikulum, SKL, dan SKKD) maka guru mengembangkan model pembelajaran. Dalam enviromental input, lingkungan yang berpengaruh pada kegiatan pembelajaran adalah ketersediaan sarana prasarana dan dukungan dari masyarakat baik moral maupun material (Nurrudin Hidayat, 2009:18).Contoh:
·
Guru menghubungkan/menggabungkan konsep
matematika tentang uang dengan konsep jual beli, untung rugi, simpan pinjam,
dan bunga.
·
Guru menghubungkan konsep pecahan dengan
desimal, dan pecahan dengan uang, tingkatan, pembagian, rasio, dan sebagainya
dari pemaduan pembelajaran.
Beberapa kelebihan dari model terhubung
(connected) adalah sebagai berikut : 1.Bagi Guru
a. Guru dapat
melihat gambaran yg menyeluh dan kemampuan atau indikator yg digabungkan
sehingga kegiatan siswa lebih terarah untuk mencapai kemampuan tersebut.
b. Guru dapat
menghubungkan ide-ide dlm satu disiplin ilmu.
2.Bagi Siswa
a.
Dampak positif
dari mengaitkan ide-ide dalam satu bidang studi adalah peserta didik memperoleh
gambaran yang luas sebagaimana suatu bidang studi yang terfokus pada suatu
aspek tertentu.
b.
Peserta didik
dapat mengembangkan konsep-konsep kunci secara terus menerus, sehingga
terjadilah proses internalisasi.
c.
Menghubungkan
ide-ide dalam suatu bidang studi sangat memungkinkan bagi peserta didik untuk
mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara
terus menerus sehingga memudahkan untuk terjadinya proses transfer ide-ide
dalam memecahkan masalah.
d.
Adanya hubungan
antar ide-ide dalam satu mata pelajaran, anak akan memperoleh gambaran yang
lebih jelas dan luas dari konsep yang dijelaskan dan peserta didik diberi
kesempatan untuk melakukan pedalaman, tinjauan, memperbaiki dan mengasimilasi
gagasan secara bertahap.
Hadisubroto, dalam Trianto mengemukakan
keunggulan model keterhubungan (connected). Keunggulan dari model ini adalah :
1.
Dengan adanya hubungan atau kaitan
antara gagasan di dalam satu bidang studi, peserta didik-peserta didik
mempunyai gambaran yang lebih komprehensif dari beberapa aspek tertentu mereka
pelajari secara lebih mendalam
2.
Konsep-konsep kunci dikembangkan dengan
waktu yang cukup sehingga lebih dapat dicerna oleh peserta didik.
3.
Kaitan-kaitan dengan sejumlah sasaran
di dalam satu bidang studi memungkinkan peserta didik untuk dapat
mengkonseptualisasi kembali dan megasimilasi gagasan secara bertahap
4.
Pembelajaran terpadu model
keterhubungan tidak mengganggu kurikulum yang sedang berlaku.
C. Kekurangan Model Keterhubungan (Connected)
Di samping
mempunyai kelebihan, model terhubung ini juga mempunyai kekurangan sebagai
berikut :
1.
Bagi Guru
a. Tidak mendorong
guru untuk bekerja secara tim, sehingga isi dari pelajaran tetap saja terfokus
tanpa merentangkan konsep-konsep serta ide-ide antar bidang studi,
b. Memadukan
ide-ide dalam satu bidang studi, maka usaha untuk mengembangkan keterhubungan antar
bidang studi menjadi terabaikan.
c. Model ini belum
memberikan gambaran yang menyeluruh karena belum menggabungkan bidang-bidang
pengembangan/mata pelajaran lain.
2.
Bagi Siswa
a. Bagi siswa yang
mempunyai kemampuan yang rendah, maka akan sedikit
kesulitan dalam
mengkaji, mengkonseptualisasi, memperbaiki, serta mengasimilasi ide-ide secara
terus menerus.
b. Dalam mengolah
suatu pengetahuan, tidak jarang siswa merasa kesulitan
untuk memadukan
topik-topik, konsep-konsep, maupun ide-ide dalam satu mata pelajaran, walaupun
guru sudah berusaha memadukannya sesuai dengan karakteristik disiplin ilmu.
D.
Langkah-Langkah (Sintaks)
Pembelajaran Terpadu Model Keterhubungan (Connected)
Model ini
digunakan sebagai permulaan kurikulum terpadu. Guru merasa percaya diri mencari
keterhubungan dalam mata pelajaran mereka (jika guru bidang studi). Mereka
menjadi mau mengadaptasikan hubungan ide-ide dalam mata pelajaran yang
menyeberang. Pembuatan keterhubungan juga diselesaikan secara kolaborasi dalam
pertemuan guru (departement meeting) dalam hal ini dalam kegiatan Kelompok
Kerja Guru (KKG) yang dapat terjadi lebih famillier. Guru dapat memulai model
ini sebelum memasuki keterpaduan yang lebih kompleks.
Pada dasarnya
langkah-langkah pembelajaran terpadu model keterhubungan mengikuti tahap-tahap
pembelajaran yang sudah biasa, yaitu tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, dan
tahap evaluasi. Oleh karena itu, sintaks model pembelajaran ini bisa direduksi
dari berbagai model pembelajaran. Dengan demikian, sintaks pembelajaran terpadu
bersifat fleksibel dan luwes. Karena dalam pembelajaran terpadu, sintaksnya
dapat diakomodasi dari berbagai model pembelajaran.
1. Tahap Perencanaan :
a. menentukan tujuan pembelajaran umum
b. menentukan tujuan pembelajaran
khusus
2. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru :
a. menyampaikan konsep pendukung yang
harus dikuasai siswa (materi prasyarat)
b. menyampaikan konsep-konsep yang
hendak dikuasai oleh siswa
c. menyampaikan keterampilan proses
yang dapat dikembangkan
d. menyampaikan alat dan bahan yang akan
digunakan / dibutuhkan
e. menyampaikan pertanyaan kunci
3. Tahap Pelaksanaan, meliputi :
a. pengelolaan kelas; dengan membagi
kelas kedalam beberapa
kelompok
b. kegiatan proses
c. kegiatan pencatatan data
d. diskusi secara klasikal
4. Evaluasi, meliputi :
a. evaluasi proses , berupa :
·
ketepatan
hasil pengamatan
·
ketepatan dalam penyusunan alat dan bahan
·
ketepatan
siswa saat menganalisis data
b. evaluasi produk :
·
penguasaan
siswa terhadap konsep-konsep / materi sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus
yang telah ditetapkan.
·
evaluasi
psikomotor : kemampuan penguasaan siswa terhadap penggunaan alat ukur.
E.
Contoh
Aplikasi Model Keterhubungan dalam Pembelajaran di SD
Implementasi
pembelajaran terpadu model Connected dikembangkan dalam bahasa dan sastra
Indonesia secara terpadu di Sekolah Dasar.Di dalam pembelajaran bahasa dan
sastra secara terpadu, yaitu pembelajaran kemampuan berbahasa yang meliputi
aspek mendengarkan,
aspek berbicara, aspek membaca dan aspek menulis dipayungkan kepada
pembelajaran apresiasi sastra. Berikut contoh pembelajaran dengan menggunakan
model keterhubungan
Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) 13
Pelajaran 4
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas / Semester: IV / 2
Waktu
: 2 x 35 menit
Tema
: Pendidikan
_______________________________________________________________
I. STANDAR
KOMPETENSI:
5.Mendengarkan pembacaan pantun.
5. Menirukan pembacaan pantun.
5. Menulis pantun anak yang dibacakan guru.
5. Membacakan kembali pantun yang telah ditulis.
II. KOMPETENSI DASAR:
5.1 Mendengarkan pantun anak yang dibacakan
guru.
5.2 Menirukan pembacaan pantun anak dengan
lafal dan intonasi yang tepat.
5.3 Menulis pantun yang telah dibacakan guru.
5.4 Membacakan kembali pantun yang telah ditulis.
III. INDIKATOR:
Mendengarkan pembacaan pantun.
Menirukan pantun yang dibacakan oleh guru.
Menulis kembali panatun yang dibacakan guru.
Menjawab pertanyaan.
Menjelaskan isi pantun yang dibacakan
guru.
IV. TUJUAN PEMBELAJARAN:
Siswa dapat mendengarkan pembacaan pantun yang
disampaikan oleh guru.
Siswa dapat menirukan pembacaan pantun dengan lafal dan
intonasi yang tepat.
· Siswa dapat menulispantun anak yang
dibacakan guru.
V. MATERI:
* Pantun anak.
VI. METODE PEMBELAJARAN:
Ceramah
Diskusi
Pemberian tugas
Demontrasi
Nama
Dosen : Dirgantara Wicaksono
Mata
Kuliah : Pengembangan Pembelajaran Pkn
di SD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar