Assalamualaikum
Wr.Wb
Harapan “Sebuah” Ujian Nasional
Siapapun yang mendengar, kata Ujian
Nasional, mungkin seketika wajah kita berubah menjadi mungkin wajah mengerut,
alis mata berubah posisi, dan lubang hidung kita akan melebar. Bahasa tubuh,
yang diiringi dengan perasaan cemas dan rasa takut ini, tidak bisa berbohong
atau dibohongi, untuk menunjukkan sikap kita terhadap Ujian Nasional,
jangan-jangan kita tidak bisa menyambutnya dengan baik. Hehehehehe……..
Menyikapi Ujian Nasional ini,
dilakukan jauh-jauh hari, oleh hampir semua siswa, orang tua siswa, guru,
pengelola pendidikan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan, terhadap ujian
tersebut.
Kenapa demikian hal ini dilakukan,
sebagai bukti bahwa Ujian Nasional adalah benar-benar diistimewakan. Kehadirannya,
akan membawa sukses atau bencana, tergantung masing-masing individu, yang
mensikapinya.
Dalam konteks kepentingan, Ujian
Nasional adalah kepentingan semua pihak, mulai dari siswa itu sendiri, orang
tua, sekolah/madrasah, yayasan, pemerintah, sampai dengan penerbit buku, yang
mengulas soal – soal Ujian Nasional. Sebagai siswa, persiapan yang dilakukan
tentu menuntut agar seluruh mata pelajaran yang di UN kan tuntas diberikan oleh
gurunya.
Sementara itu, kepentingan guru
adalah bagaimana siswa memiliki daya serap tinggi terhadap mata pelajaran yang
disampaikan. Sedangkan kepentingan sekolah, jelas menghendaki tingkat kelulusan
UN mencapai 100%, dengan tingkat nilai kelulusan yang signifikan.
Sementara sekolah/madrasah/yayasan
mengharapkan agar nanti saat penerimaan siswa baru sesuai target yang
direncanakan. Lingkaran kepentingan ini, terus berputar. Siswa membutuhkan guru
yang professional, guru membutuhkan sekolah/madrasah/ yayasan yang tentunya
kondusif dan apresiatif. Kemudian, sekolah/madrasah/yayasan membutuhkan siswa
sesuai target yang direncanakan. Tentunya keseluruhan lingkaran proses ini
disebut proses belajar – mengajar tercapai sesuai yang diinginkan.
Jadi sebenarnya proses Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) bukanlah hanya di kelas saja. Melainkan dalam atmosfir
pendidikan, kegiatan yang ada hubungannya dengan upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa, dikategorikan sebagai proses kegiatan belajar mengajar. Ingat, bahwa
orientasi pembelajaran selalu merujuk kepada prinsip learning to know, learning
to do, learning to be, dan learning to life together, secara sinergis.
Faktor ekternal yang mensupport
percepatan proses KBM (kegiatan belajar mengajar) tersebut agar lebih baik,
yaitu orang tua siswa dan Pemerintah (dalam hal ini Diknas Provensi/kota atau
Kemenag Provensi/Kota setempat atau didaerah). Kepentingan orang tua siswa,
sebagai pengguna jasa pendidikan, menghendaki anak – anaknya mampu
menyelesaikan pendidikan formalnya dengan baik dan lancar serta berhasil
menguasai personal skill sebagai bekal hidupnya di masa depan.
Sementara, kepentingan Diknas dan
Kemenag setempat, mengawasi dan memonitor kebijakan/program pemerintah, agar
dapat berjalan sesuai juklak dan juknis yang dibuat.
Lingkaran kepentingan ini, kemudian
menjadi bola salju, yang semakin tahun semakin membesar. Jika lingkaran
kepentingan ini begitu besar, maka satu sama lain akan melahirkan kebutuhan
yang besar pula. Kebutuhan inipun akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka,
memupuk ketergantungan satu sama lain.
Secara internal, siswa pasti
tergantung kepada guru. Guru pasti tergantung kepada lembaga/instusinya atau
Yayasannya. Sekolah/Madrasah/yayasan tergantung kepada siswa. Sementara faktor
eksternal, yang berpengaruh terhadap proses ketergantungan tersebut adalah
orang tua siswa dan Diknas atau Kemenag. Keberadaan kedua elemen ini, untuk
mensupport keberlangsungan proses yang terus berputar secara internal tersebut.
Dari proses ketergantungan yang kuat
inilah, kemudian menimbulkan ekses-ekses, baik positip maupun negatif, diantara
stakeholders, yang satu sama lain memiliki kepentingan masing-masing. Tulisan
ini mudah-mudahan tidak memunculkan ekses-ekses yang negatif, selain agar
positive thinking, juga agar tidak ada pihak-pihak yang tersinggung, karena
praktek-praktek yang sudah berjalan, layaknya seperti agenda rutin tahunan.
Orang tua siswa yang menghendaki
anak-anaknya sukses dalam UN, mengupayakan tambahan pendalaman materi mata
pelajaran, melalui bimbingan belajar (bimbel), meskipun mungkin sekolah telah
melakukan hal serupa habis-habisan bagi peserta didiknya. Sekolah melakukan
penekanan habis-habisan untuk memacu produktivitas peserta didiknya (siswa),
untuk bisa lulus 100 %, melalui tambahan mulai jam ke 0 dan jam ke 10 dan
seterusnya. Diknas dan Kemenag atau bentuk kerja sama dengan Lembaga pendidikan
lainnya mengupayakan terselenggaranya pra-UN, dan sekolah-sekolah melakukan Try
out, untuk menguji coba kemampuan Ujian Nasional.
Dalam rangka melihat kondisi dan
suasana seperti ini, kita semua dituntut untuk bersikap arif dan bijaksana.
Apapun persoalannya, apapun masalah yang menimpa kita, sebenarnya sama
proporsionalnya (sama takarannya), hanya saja, yang membedakannya adalah
sikapnya terhadap masalah tersebut, Apakah masalah itu bisa selesai atau bahkan
bertambah parah, tergantung pada orang tersebut dalam cara pola fikirnya.
Sikap seseorang terhadap masalah
hidupnya, tergantung kepada kemampuannya dalam memahami siapa dirinya,
mengetahui apa yang menjadi potensinya, dan memaknai apa yang menjadi tujuan
hidupnya (apa yang penting dalam hidupnya). Kemampuan bersikap ini, secara
khusus, tidak diajarkan di dalam kelas. Kemampuan bersikap (jujur) dalam
diri kita, diajarkan oleh banyak pihak, antara lain : orang tua kita, guru
kita, lingkungan dan masyarakat di sekitar kita. Keseluruhannya, sangat
mempengaruhi perkembangan sikap dan prilaku dalam hidup kita sehari-hari.
Kita tidak bisa menyalahkan satu dua
orang saja, karena sikap seseorang tidak sesuai dengan harapan orang yang
berkepentingan kepada orang tersebut. Banyak pihak yang membentuk kita
bersikap, seperti ini.
Akhirnya, apabila semua pihak
terakomodir kepentingannya, dan stakehorldes merasa puas terhadap lingkaran
proses yang berlangsung dalam kegiatan belajar-mengajar, maka dihadapkan pada
Ujian Nasional, tidak perlu ada kerisauan sekecil apapun. Anggap saja ini
semua, adalah orang tua, kerabat, saudara-saudara kita yang jauh-jauh datang,
ingin melepas rindu kepada kita semua.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Nama
Dosen : Dirgantara Wicaksono
Mata
Kuliah : Pengembangan Pembelajaran Pkn
di SD